Perawat, kok kamu gitu sih??

Januari 24, 2010 pukul 7:47 pm | Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar
Tag: ,

Mencermati aspek kesehatan dalam arti luas, maknanya tidak hanya sehat secara fisik namun juga psikis, termasuk di dalamnya kesehatan mental yang direfleksikan dalam inidikator kemampuan atau kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Dalam konteks ini jelas, derajat kesehatan dapat memberikan pengaruh ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dan harus diakui, selama ini masih banyak permasalahan kesehatan, seperti masih buruknya pelayanan kesehatan, rendahnya derajat kesehatan dari warga miskin, akibat rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, minimnya dana yang dialokasikan untuk menunjang program kesehatan, beberapa penyakit menular, yang dapat menjadi ancaman utama bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan itu penting dan pemerintah pun menaruh perhatian yang serius untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di setiap daerah dalam pidato presiden RAPBN 2009 juga menyinggung tentang peningkatan kualitas dibidang kesehatan. hanya saja yang jadi ironis adalah pelayanan dibidang kesehatan masih kurang diperhatikan, baik itu dari pemerintah sendiri ataupun dari ‘pelayan masyarakat’ dibidang kesehatan seperti dokter, perawat, mantri dan lain sebagainya. banyak contoh nyata pelayanan yang buruk dibidang kesehatan, salah satunya kasus prita mulyasari.
lewat tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman pribadi tentang buruknya pelayanan kesehatan yang pernah saya alami.
Beberapa hari yang lalu sekitar pukul 6 pagi bapak saya mengeluh perutnya sakit (adanya kerusakan dibagian empedu dan ginjal), saya dan kakak saya langsung membawa bapak ke RSUD X (rahasia biar gak kaya kasus prita hehehehe….). setelah sampai dRSUD tersebut bapak langsung diperiksa dan dokter menyarankan bapak dirawat inap tapi kebetulan semua kamar di RSUD sudah penuh kecuali ruangan kelas tiga yang dalam satu ruangan ada empat pasien. Daripada tidak ada kamar terpaksa bapak dirawat dalam ruangan tersebut. sebenarnya sebagai anak saya tidak tega bapak dimasukkan diruangan tersebut, bayangkan saja masa bapak saya disatukan sama pasien lain yang mungkin mempunyai penyakit menular. Bagaimana perasaan teman-teman jika menjadi saya??Bingung, capek, kawatir, jengkel semua jadi satu!
Sore harinya saya mendapat informasi kalau ada kamar kosong dengan segera saya memesan kamar tersebut biar bapak dipisahkan dari pasien lain. Sebelum dipindahkan ke kamar yang sudah saya pesan, bapak diperiksa kembali dan setelah pemeriksaan saya langsung meminta ijin kepada dokter agar bapak segera dipindahkan dan dokter pun mengijinkan serta memberikan berkas hasil pemeriksaan. Pada saat saya membantu bapak berdiri dari tiba-tiba terdengar suara keras “mau kemana?!” ternyata suara itu dari seorang perawat yang bertugas di ruangan kelas tiga, lalu dengan nada agak kasar sambil melotot seakan-akan kami mau lari dari rumah sakit dan tidak membayar biaya rumah sakit berkata “mau memindahkan bapak ini kan? Itu tugas kami, kami yang nantinya mengatarkan terus membuat pengantar agar bapak ini bisa dipindahkan!” Hanpir saja saya dan keluarga terpancing emosinya gara-gara sikap perawat tersebut tapi karena melihat kondisi bapak yang sakit kami mengalah dan tidak mau timbul keributan. memang benar itu merupakan tugas perawat saya juga mengakui kalau saya tidak tau prosedur dalam pemindahan itu tapi saya jengkel adalah kata-kata keluar dari perawat tersebut. Saya sungguh sangat kecewa dengan sikap perawat tersebut, apa seperti ini sikap perawat seorang perawat yang baik?? Apa pada saat pendidikan di akademi perawat tidak diajarkan sikap ramah??
Pengalaman ini saya bagikan kepada siapapun terutama bagi teman-teman yang mungkin bercita-cita ingin menjadi perawat, yang masih masih menempuh pendidikan di akademi perawat ataupun yang telah menjadi perawat. Perawat juga manusia tapi pasien dan kelauarganya juga manusia. Tidak semua sikap perawat anarkis seperti yang saya temui di RSUD X tapi saya berharap para perawat bersikaplah selayaknya seseorang yang benar-benar berkomitmen penuh untuk merawat orang sakit dengan memberikan pelayanan yang terbaik. Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh pasien dan keluarganya untuk berobat dan tidak berlebihan kiranya jika ingin diperlakukan dengan baik. Percuma saja jadi perawat kalau tidak bisa saling menghormati, menghargai dan sabar menangani pasien dan keluarganya , lebih baik jadi preman saja dipasar kalaau terus-terusan bersikap arogan…….

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sukur rumah sakitnya di sensor hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: